Tak Seindah Hayalan

Cara termudah mencari karyawan tanpa harus melatih, tanpa harus membayar biaya pelatihan dari kegagalan dan kesalahan yang dilakukannya adalah dengan MEMBAJAK, Cara termudah mendapatkan kenaikan gaji menunggu di BAJAK atau MEMBAJAKAN DIRI. Namun jangan berharap memiliki karyawan yang loyal, setia dan Jujur dan Jangan pernah berharap pengampunan dari pemimpin yang telah membajak karena bukan untuk itu mereka membajak tapi untuk untung dan rugi.

Banyak perusahaan enggan melatih, memberangkatkan pelatihan, memberi kesempatan untuk belajar. menurut mereka “nanti kalau mereka pintar mereka akan susah diatur”, “kalau diberi kesempatan keluar kantor atau tugas luar nanti mereka dibajak orang”, tentu hal ini juga tidak dapat disalahkan, namun memproteksi agar karyawan tidak keluar dari perusahaan dengan cara ini juga kurang bijak. perlu ada kesepahaman antara karyawan dan perusahaan. Perusahaan memberi kesempatan agar karyawan dapat berkembang, namun karyawan juga mampu menjaga kepercayaan tersebut, laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, tepati target waktu yang telah ditetapkan dan jangan “selingkuh” menggunakan biaya perusahaan, mencari peluang lain dengan biaya perusahaan dan fasilitas perusahaan untuk kepentingan diri sendiri.

Jika perusahaan membajak karyawan dan karyawa mau dibajak tentunya ada nilai-nilai yang tidak diperhatikan oleh kedua belah pihak yaitu Integritas, Loyalitas, kejujuran dan moral. kenapa harus membajak? padahal masih ada Jutaan pengangguran, bukankah dengan membajak karyawan orang lain bisa saja membuat perusahaan itu mengalami penurunan sehingga berpotensi menambah pengangguran. sebagian besar tujuan pembajakan bukan semata membajak karyawan yang bersangkutan tetapi juga membajak konsumen perusahaan yang dihandle oleh karyawan tersebut, bagaimana bisa perusahaan seperti ini menjadi harapan masa depan? jika saat ini, saat ia membajak anda ia tidak memikirkan dampak atas tindakannya. ironis juga bagi karyawan yang mau dibajak, pendapatan pasti lebih besar, namun anda tetap harus mulai dari Nol karena belum ada rekaman prestasi atas nama anda diperusahaan baru tersebut. saya kenal seseorang yang suka sekali pindah-pindah kerja (dibajak dan membajakkan diri), diperusahaan asal jabatan terakhirnya Marketing, lalu pindah ke perusahaan B dengan jabatan Marketing, Selang beberapa bulan teman saya tersebut menawarkan produk atas nama perusahaan C tentunya jabatannya juga masih sama, sementara rekan seangkatannya diperusahaan asal telah menduduki jabatan manajer dengan fasilitas Mobil, sementara dia masih marketing dan masih menunggangi Motor, karena sangat tidak mungkin karyawan baru diberi fasilitas mobil dia harus membuat rekaman prestasi/catatan prestasi baru, kapan jadi senior?

Bagaimana dengan Loyalitasnya? tentunya harus disadari oleh kedua belah pihak bahwa mereka tidak boleh mengharapkan loyalitas. Bagaimana Anda mengharapkan kesetiaan dari seorang istri yang sebelum Anda nikahi adalah seorang Janda yang sudah beberapa kali cerai karena sang istri selingkuh. Wanita yang seperti ini berusaha mencari kehidupan yang lebih baik dengan cara ganti suami. Waktu didesa mungkin Anda laki-laki terbaik, lalu setelah menikah Anda dan istri hijrah ke kota dan ternyata dikota banyak pria-pria yang lebih baik, lebih kaya. Sekarang pertanyaannya ada 2 untuk istri, yang 1 Apakah Anda akan cari pria-pria yang lebih baik itu dan menikah dengannya?, atau yang ke 2 Anda terus bersama suami Anda, mendukung dan menjadikan suami Anda sebaik Pria-Pria lain tersebut? tentu semua itu pilihan yang bisa Anda pilih beserta konsekuensinya dan image (citra) yang melekat pada kedua pilihan tersebut. Dalam kontek Pembajakan karyawan, apakah perusahaan seperti ini layak menjadi tempat Anda menyandarkan masa depan?

Bagi seorang Entrepreanure tentu hal seperti ini bukan hal yang harus ditakuti, jika kita memiliki karyawan kutu loncat seperti ini, cukup layak untuk disyukuri, karena kita telah ditunjukan dan mereka menunjukan diri bahwa mereka tidak cukup tepat untuk ada bersama kita, membangun Visi besar, menjadi besar, mereka menunjukan diri mereka tidak layak untuk dicatat dalam sejarah kesuksesan Perusahaan kita.

Bagi Perusahaan, bangunlah system, jangan titipkan system pada seseorang, melekatkan pada seseorang, bangun kepercayaan, mulailah percaya pada lebih banyak orang dan lakukan regenerasi kepemimpinan. dan bagi karyawan, tunjukan seluruh potensi Anda, jadilah yang terbaik, layak dipercaya dan layak dipertahankan.

Salam

Made Sumiarta, SE

Ingin ku memeluk gunung, apa daya istriku sedang pergi

Pemahaman saya : Organisasi layaknya seperti satu rangkaian tubuh yang masing-masing bagian diberi nama dan fungsinya, Pikiran kita adalah kendalinya, dan hati kita adalah penyeimbangnya agar apa yang dipikirkan/diputuskan oleh pikiran menjadi lebih layak atau dapat diterima oleh organ tubuh yang lain juga oleh orang lain, pikiran membuat kita tampil lebih gagah dengan kejeniusannya hati membuat kita tampil lebih elegan/berwibawa , dihargai dan dikenang dengan kebijaksanaannya, maka ketika kita mampu memadukan antara pikiran dan hati kita akan menjadi pemimpin yang legendaris, dikenang selamanya.
Ketika ada gangguan ke syaraf otak atau otak telah teninfeksi oleh sesuatu, maka akan terjadi Bad Communication yang menyebabkan organ-organ tubuh menjadi binggung, jika tidak ada usaha perbaikan, maka terjadilah kelumpuhan total (Stroke) yang menimbulkan disharmoni.

Dalam kehidupan organisasi kita sering sekali lupa betapa pentingnya peran kita masing-masing dalam menciptakan keharmonisan, kita lebih suka mencari sesuatu diluar diri kita, kita sering sekali lupa bahwa keharmonisan tercipta karena kita, karena kita yang menciptakan, keharmonisan bukan pemberian dari pihak lain. Terkadang kita juga lupa bahwa sikap reaktif kita akan kembali menghantam kita, bahwa Personal Brand Image dibangun dari Pikiran, sikap dan tindakan kita kepada orang lain. “Bawahan saya tu orangnya pelit banget, kikir, medit, Bodo, masak gitu aja gak bisa”, dari sudut pandang kita, kita merasa gagah menceritakan pada orang lain, apakah demikian pandangan orang lain? Ho…ooo, kalau kata saya “ini pemimpin tidak memahami posisinya sebagai pemimpin, dia tidak tahu bahwa dia telah mencoreng namanya sendiri dengan menunjukan ketidakmampuannya memimpin, masak memimpin gitu aja gak bisa? Hahahh….. Gimana dong, ternyata penilaian orang beda ya, ” MAKSUD HATI MEMELUK GUNUNG, APA DAYA ISTRIKU SEDANG PERGI” Gak nyambung blasss, sama gak nyambungnya dengan sikap pemimpin diatas, maunya kelihatan hebat dengan waton JEPLAK e malah…… Kena sendiri.

Kadang kita merasa sebagai pemimpin yang hebat, pintar, disegani, ditakuti, sudah berkerja keras, sudah memberikan segala-galanya, sudah belajar sana-sini, sudah menguasai teori ini teori itu, sehingga jika terjadi miss, kita tidak mau disalahkan, kita berusaha mencari kesalahan orang lain walau dengan hal-hal yang sangat tidak rasional….. 1 hal, sangat mudah menilai apakah kita pemimpin yang hebat, lihatlah sebesar apa organisasi yang kita pimpin? Apa perkembangan organisasi ketika kita jadi pemimpinnya? Apa nilai tambah yang kita hasilkan dari kepemimpinan kita? Temukan hal itu, jangan sampai kita kecele, sudah OMBES (omong besar) ternyata ketika dinilai tidak ada perkembangan organisasi yang kita pimpin.

Kerap kita temukan ada seseorang begitu hebat ketika memimpin perusahaan besar, namun gagal total ketika memimpin perusahaan kecil. Begitu hebat ketika memimpin perusahaan kecil namun gagal total ketika memimpin Perusahaan besar. Begitu hebat ketika berkerja diperusahaan lain, namun bangkrut ketika memimpin Perusahaan sendiri, menjadi pemimpin yang sangat hebat diluaran sana, namun bahkan gagal memimpin rumahtangganya.
Sering kali kita tidak menyadari bahwa mengemudikan bus dan mini bus berbeda perlakuannya, berbeda saat berbelok, berbeda saat mendahului, berbeda saat berhenti, berbeda saat parkir. Saat mengemudi mini bus kita adalah sopir sekaligus kondektur dan pada saat kita mengemudi bus kita hanya sebagai sopir yang dilengkapi dengan kondektur yang bisa kita perintah. Menjadi pemimpin diperusahaan besar tidak perlu sampai ke Teknis, namun memimpin perusahaan kecil kita juga harus menguasai teknis.

Sebagai pemimpin Jangan terjebak ikut menyalahkan system, manajemen, strategi, kesejahteraan karena itu adalah bagian kita, menjadi tugas kita, menjadi kewajiban kita. Jika kita ikut terjebak, Lalu apa kerja kita sebagai pemimpin…? Apakah kita pemimpin yang amanah? Apakah kita pemimpin yang bertanggungjawab?
Jika kita adalah pemimpin, belajar jadi pemimpin, berkeinginan jadi pemimpin, MARI BELAJAR PROAKTIF

Salam
Made Sumiarta
(Prema Ananda | AKMI Baturaja)
YM. : made_mg
Pin BB. : 2571CD16
mobile : 08156 80 3709
0819 3177 3299
0813 90 13 8484
Phone. : +62 274 558126
email. : made@akmi-baturaja.ac.Id
madeprema@gmail.com
madeprema@yahoo.co.id
http://www.premaananda.co.cc
http://www.prema-ananda.co.cc
http://www.akmi-baturaja.ac.id
http://www.ogan.co.cc
http://www.hipmikindo.co.cc
http://www.iksjogja.co.cc
facebook : http://www.facebook/made.sumiarta

Seni Kepemimpinan “Smart Leadership”

menurut Anderson (1988) leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance.  “kepemimpinan berarti menggunakan kekuatan untuk mempengaruhi pikiran dan tindakan orang lain sedemikian rupa sehingga mencapai kinerja yang tinggi”

Kepemimpinan Kaisar Tang Taizong

Suatu hari Kaisar Tang Taizong tiba di Istana Cuiwei. Beliau bertanya kepada pejabat yang menyambut,”Sejak jaman nenek moyang, meskipun banyak Kaisar dapat menaklukkan Tiongkok pusat, namun mereka gagal dalam menarik suku minoritas Rong ataupun Di untuk bergabung. Dibanding para pendahuluku, kemampuanku tidaklah seberapa, tapi saya mampu menyempurnakannya lebih baik dari mereka. Saya tidak ingin mengatakan jawabannya saat ini, namun saya ingin bertanya kepada anda sekalian untuk memberikan jawaban yang sebenarnya.”

Seluruh pejabat yang hadir menjawab,” Kebajikan Yang Mulia besar-nya bagaikan langit dan bumi, sangat sulit untuk melukiskan dengan jelas dalam beberapa kata.”

Lalu Kaisar berkata,”Bukan itu. Ada lima alasan mengapa saya dapat menyempurnakan apa yang telah saya kerjakan.

-          Pertama, sejak dulu, banyak Kaisar selalu merasa iri terhadap talenta orang yang melebihinya; dilain pihak, saya sendiri menilai kemampuan orang lain sebagaimana menilai diri sendiri.

-          Kedua, tidak ada orang yang sempurna, jadi saya tidak menghiraukan kekurangan orang namun menggunakan kelebihannya.

-          Ketiga, ketika yang lainnya menemukan orang yang berbakat dan bijak, mereka ingin menguasainya dan mendepak orang yang kurang cakap, bahkan sampai berharap dapat mendorongnya kedalam jurang. Ketika saya bertemu seseorang yang berbakat, saya menghargainya dan kepada orang yang kurang cakap saya mengasihaninya. Dengan cara ini keduanya mendapat tempat yang semestinya.

-          Keempat, sebagian besar Kaisar terdahulu tidak menyukai orang yang lurus, jujur dan vokal. Bahkan dengan diam-diam menindasnya atau terang-terangan menghukumnya. Namun dalam pemerintahan saya, pengadilan dipenuhi oleh pejabat yang lurus, dan tak ada seorangpun yang melanggarnya.

-          Kelima, sejak dulu para Kaisar selalu menilai lebih tinggi wilayah Tiongkok pusat namun meremehkan suku minoritas Rong dan Di, dilain pihak saya memperlakukan mereka sejajar. Oleh karena itu mengapa mereka menghormati saya seperti orang tuanya sendiri. Inilah 5 alasan saya mengapa saya dapat menyempurnakan apa yang telah saya kerjakan saat ini.” (The Epoch Times/uti)*

Sumber : Zizhi Tongjian (Cermin Besar Panduan Memimpin), vo-lume 198, Dinasti Tang, catatan ke 14 (http://erabaru.net )

Rekan-rekan pemimpin, calon pemimpin, belajar jadi pemimpin, dan berkeinginan jadi pemimpin dimanapun Anda berada, dengan latar belakang apapun, Anda berhak dan bisa menjadi pemimpin, bahkan saat inipun kita semua adalah seorang pemimpin paling tidak pemimpin bagi diri sendiri, keluarga atau kelompok. Jiwa, sikap, prilaku dan pola pikir perlu dimiliki oleh setiap orang yang mengiginkan pencapaian tujuan.

Anda mungkin pernah melihat permainan catur, atau mungkin Anda bisa bermain catur, strategi permainan catur memang lebih sering digunakan dalam politik, mengerakan/mengorbankan biji catur untuk mencapai tujuan. Dengan itikat baik strategi permainan catur dapat diterapkan dalam kepemimpinan, bagaimana sebuah organisasi dapat meraih tujuan dengan smart, dibutuhkan kerja sama yang baik, pengikut yang baik demi tercapainya kemenangan bersama, rela menjadi Dahan, Batang, bahan Akar. Pion-pion didepan mengiring, membentuk barisan yang mengiring lawan-lawannya, mengkondisikan lawan-lawannya agar siap diserang oleh pasukan dibelakangnya (team eksekusi). Bila kita gambarkan dalam suatu organisasi, maka pion-poin tersebut adalah Satpam, Office Boy, Resepsionis, cleaning service, dll. Dan lawan-lawannya adalah customer (meskipun gambaran ini kurang begitu tepat, karena customer adalah partner, namun mempermudah memberi gambaran kita gunakan gambarkan seperti itu), maka pasukan yang didepan ini adalah bertugas mengkondisikan mental si customer agar siap diprospek dan di followup oleh team lapis berikutnya. Ketika customer datang, satpam menyambut dengan ramah (senyum, sapa, bertanya dan membantu), ketika bertemu dengan Office Boy, Office Boy pun ramah (Senyum, Sapa, membantu), berpapasan dengan cleaning service, cleaning service pun menghentikan pekerjaannya, berdiri, senyum dan sapa. Sampai diresepsionis, Resepsionis menghentikan pekerjaannya, Senyum, Berdiri, sapa, mempersilahkan dan melayani. Bisa Anda bayangkan jika anda masuk ke sebuah kantor yang kondisinya seperti ini, apa yang ada dibenak Anda? Wow… luar biasa pelayanan disini, timbul rasa nyaman, aman dan damai, sehingga timbul satu point yang bernama TRUSH (kepercayaan), jika kondisi ini sudah tercipta, maka Marketing tinggal menjelaskan produk dan closeing transaksi.

Tidak jarang terjadi pada perusahaan, antar bagian tidak mampu berkerja sama seperti itu, terkadang malah saling menjatuhkan, sikut-sikutan, semua ingin dipandang hebat, tanpa menyadari esensinya. Tanpa koordinasi yang baik, kerjasama yang manis, maka sikap seperti itu justru akan menghancurkan organisasi, siapa yang diuntungkan? Tidak ada, siapa yang dirugikan? Semuanya. “Setiap orang ingin dihargai, maka berikan perhatian Anda untuk menghargai mereka dilevel manapun mereka berada”

Sebagai seorang pemimpin tentunya kita tidak berhenti sampai pada level menyalahkan kondisi ini, tentunya kehebatan seorang pemimpin bukan menemukan teamnya melakukan kesalahan, namun menemukan teamnya melakukan hal yang benar, karena itulah fungsi seorang pemimpin, karena ada kondisi itulah, maka dibutuhkan seorang pemimpin, dan Anda layak bersyukur, karena Anda hadir untuk meramu berbagai jenis alat musik dengan nada yang berbeda sehingga menghasilkan karya musik atau karya seni yang spektakuler. “Anda tidak akan mampu mengangkat organisasi Anda dengan kehebatan, kecerdasan, popularitas Nama Anda sendiri, karena Anda sedang membangun organisasi yang rapuh, Anda sedang membangun integritas organisasi didalam integritas Anda pribadi. maka, Bangunlah integritas Organisasi”

Kita semua pastilah sering melihat group musik dan Paduan suara, adakalanya satu jenis alat musik yang mendominasi, adakalanya semua alat musik dimainkan berbarengan, sehingga suaranya indah untuk didengarkan. Coba Anda bayangkan semua pemain alat-alat musik itu tidak mengikuti aturan dan memainkan alat musiknya masing-masing semaunya, apa yang terjadi?. Fungsi sang derigen, memberi arahan, kapan nada rendah, kapan nada tinggi, kapan bermain lambat, dan kapan bermain cepat. Seorang derigen (Pemimpin) harus mampu melihat semua pemainnya, agar dapat memberi aba-aba ke semua pemain, dan seorang pemimpin harus bisa terlihat oleh semua pemain, agar aba-abanya dapat dilihat oleh semua pemain, “Seorang pemimpin ada untuk mereka”.

Dalam praktek kepemimpinan, Seorang pemimpin haruslah dapat menjaga komunikasi sampai ke level bawah, mampu meyakinkan bahwa semua team adalah penting, semua bidang adalah penting, semua bagian adalah penting, dan mereka mengetahui bahwa memang Anda sebagai pemimpin mampu menunjukan bahwa mereka semua penting dengan perhatian Anda. Untuk dapat berlaku dan bersikap seperti itu, maka seorang pemimpin harus memiliki tombol On/Off dan Volume atas egonya. Sebagai seorang pemimpin harus mampu membantu meningkatkan rasa percaya diri semua team dengan memberi kesempatan pada team untuk membuat keputusan, delegasi, dan menghargai apapun hasilnya, tentunya bila team belum mampu untuk membuat keputusan, maka pemimpin harus bersedia menjadi mentor (coaching). “Bila Anda sebagai seorang pemimpin menganggap mereka tidak penting, bagaimana dengan mereka”

Seorang pemimpin yang hebat bukan saja berhasil membuat dirinya hebat, namun yang terpenting membuat semua teamnya menjadi pribadi-pribadi yang hebat, menjadi anggota team yang hebat, karena “orang tidak perduli sehebat apa Anda, tapi sebesar apa kepedulian ada pada mereka dan apa manfaatnya untuk mereka atas kehebatan Anda”.

Selamat Menjadi Pemimpin Yang Hebat……..

Salam Sukses

Made Sumiarta

http://premaananda.co.cc

http://ogan.co.cc

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.