Tak Seindah Hayalan

Cara termudah mencari karyawan tanpa harus melatih, tanpa harus membayar biaya pelatihan dari kegagalan dan kesalahan yang dilakukannya adalah dengan MEMBAJAK, Cara termudah mendapatkan kenaikan gaji menunggu di BAJAK atau MEMBAJAKAN DIRI. Namun jangan berharap memiliki karyawan yang loyal, setia dan Jujur dan Jangan pernah berharap pengampunan dari pemimpin yang telah membajak karena bukan untuk itu mereka membajak tapi untuk untung dan rugi.

Banyak perusahaan enggan melatih, memberangkatkan pelatihan, memberi kesempatan untuk belajar. menurut mereka “nanti kalau mereka pintar mereka akan susah diatur”, “kalau diberi kesempatan keluar kantor atau tugas luar nanti mereka dibajak orang”, tentu hal ini juga tidak dapat disalahkan, namun memproteksi agar karyawan tidak keluar dari perusahaan dengan cara ini juga kurang bijak. perlu ada kesepahaman antara karyawan dan perusahaan. Perusahaan memberi kesempatan agar karyawan dapat berkembang, namun karyawan juga mampu menjaga kepercayaan tersebut, laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, tepati target waktu yang telah ditetapkan dan jangan “selingkuh” menggunakan biaya perusahaan, mencari peluang lain dengan biaya perusahaan dan fasilitas perusahaan untuk kepentingan diri sendiri.

Jika perusahaan membajak karyawan dan karyawa mau dibajak tentunya ada nilai-nilai yang tidak diperhatikan oleh kedua belah pihak yaitu Integritas, Loyalitas, kejujuran dan moral. kenapa harus membajak? padahal masih ada Jutaan pengangguran, bukankah dengan membajak karyawan orang lain bisa saja membuat perusahaan itu mengalami penurunan sehingga berpotensi menambah pengangguran. sebagian besar tujuan pembajakan bukan semata membajak karyawan yang bersangkutan tetapi juga membajak konsumen perusahaan yang dihandle oleh karyawan tersebut, bagaimana bisa perusahaan seperti ini menjadi harapan masa depan? jika saat ini, saat ia membajak anda ia tidak memikirkan dampak atas tindakannya. ironis juga bagi karyawan yang mau dibajak, pendapatan pasti lebih besar, namun anda tetap harus mulai dari Nol karena belum ada rekaman prestasi atas nama anda diperusahaan baru tersebut. saya kenal seseorang yang suka sekali pindah-pindah kerja (dibajak dan membajakkan diri), diperusahaan asal jabatan terakhirnya Marketing, lalu pindah ke perusahaan B dengan jabatan Marketing, Selang beberapa bulan teman saya tersebut menawarkan produk atas nama perusahaan C tentunya jabatannya juga masih sama, sementara rekan seangkatannya diperusahaan asal telah menduduki jabatan manajer dengan fasilitas Mobil, sementara dia masih marketing dan masih menunggangi Motor, karena sangat tidak mungkin karyawan baru diberi fasilitas mobil dia harus membuat rekaman prestasi/catatan prestasi baru, kapan jadi senior?

Bagaimana dengan Loyalitasnya? tentunya harus disadari oleh kedua belah pihak bahwa mereka tidak boleh mengharapkan loyalitas. Bagaimana Anda mengharapkan kesetiaan dari seorang istri yang sebelum Anda nikahi adalah seorang Janda yang sudah beberapa kali cerai karena sang istri selingkuh. Wanita yang seperti ini berusaha mencari kehidupan yang lebih baik dengan cara ganti suami. Waktu didesa mungkin Anda laki-laki terbaik, lalu setelah menikah Anda dan istri hijrah ke kota dan ternyata dikota banyak pria-pria yang lebih baik, lebih kaya. Sekarang pertanyaannya ada 2 untuk istri, yang 1 Apakah Anda akan cari pria-pria yang lebih baik itu dan menikah dengannya?, atau yang ke 2 Anda terus bersama suami Anda, mendukung dan menjadikan suami Anda sebaik Pria-Pria lain tersebut? tentu semua itu pilihan yang bisa Anda pilih beserta konsekuensinya dan image (citra) yang melekat pada kedua pilihan tersebut. Dalam kontek Pembajakan karyawan, apakah perusahaan seperti ini layak menjadi tempat Anda menyandarkan masa depan?

Bagi seorang Entrepreanure tentu hal seperti ini bukan hal yang harus ditakuti, jika kita memiliki karyawan kutu loncat seperti ini, cukup layak untuk disyukuri, karena kita telah ditunjukan dan mereka menunjukan diri bahwa mereka tidak cukup tepat untuk ada bersama kita, membangun Visi besar, menjadi besar, mereka menunjukan diri mereka tidak layak untuk dicatat dalam sejarah kesuksesan Perusahaan kita.

Bagi Perusahaan, bangunlah system, jangan titipkan system pada seseorang, melekatkan pada seseorang, bangun kepercayaan, mulailah percaya pada lebih banyak orang dan lakukan regenerasi kepemimpinan. dan bagi karyawan, tunjukan seluruh potensi Anda, jadilah yang terbaik, layak dipercaya dan layak dipertahankan.

Salam

Made Sumiarta, SE

Kapasitas Diri

Ada seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yg sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit & meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas & di aduk perlahan, “Coba minum ini & katakan bagaimana rasanya?” ujar pak tua
“Pahit sekali” jawab pemuda, Pak tua itu tersenyum, mengajak pemuda itu untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Mereka berjalan berdampingan & akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu & dgn sepotong kayu ia mengaduknya,”Coba ambil air dr telaga ini & minumlah” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya?” Read more of this post

Siapa Aku

Pada suatu sore saya berkesempatan ngobrol-ngobrol santai bersama saudara dan istri saya. Setelah ngobrol ngalor ngidul, saudara saya bertanya “Kenapa ya, setiap saya ketemu dengan orang itu ada rasa tidak nyaman, bawaannya pengen marah aja, hawanya panas”. Lalu saya ambil timun yang ada didekat kami “ini apa namanya?, serempak menjawab TIMUN” Kenapa namanya timun? “Yaaaaa, emang dari dulu namanya TIMUN” Misalnya orang yang pertama kali menemukan ini memberi nama Singkong, kira-kira ini sekarang namanya apa? “Ya singkong lah….” Lalu saya menunjuk hidung saya Ini apa Namanya? “HIDUNGGG…..” Seandainya dari dulu ini diberi nama mulut, kira-kira sekarang apa namanya? “Ya, MULUT Lah….”. Jadi apa kesimpulannya? Bahwa segala sesuatu itu menjadi dikenal dengan nama tertentu karena ada yang memberi nama/label dan diperkenalkan secara terus menerus sehingga akhirnya banyak orang ikut/menyetujui nama tersebut.

Lalu apa penjelasan dari pertanyaan diatas? Kita mengenal pikiran sadar (Consius) dan pikiran bawah sadar (sub consius), pikiran sadar dapat membedakan baik dan buruk dapat menerima dan menolak, namun pikiran bawah sadar atau beberapa orang menyebutnya alam bawah sadar tidak dapat membedakan baik dan buruk, ia menerima semua yang kita sampaikan/masukan, ia seperti harddisk dalam sebuah komputer, harddisk menerima semua program/data yang kita masukan tanpa membedakan program apa yang kita masukan. Ketika kita selalu mengatakan orang itu jahat, sombong, angkuh, kita tidak suka dengan orang itu, kita benci, maka pikiran bawah sadar akan mencatatnya/memasukannya sebagai program dan setiap saat jika kita ketemu orang itu, maka pikiran bawah sadar akan memberikan warrning pada pikiran sadar dan seluruh organ kita sehingga seluruh pikiran dan organ kita bereaksi mengambil sikap masing-masing, sehingga secara total akan membentuk sikap tertentu dan tentunya sikap kita ini akan terlihat oleh orang tersebut sehingga akan mendapat tanggapan yang juga kurang lebih sama (tidak baik), ketika orang tersebut bereaksi tidak baik, maka pikiran sadar kita dan seluruh organ kita sepakat dengan warrning pikiran bawah sadar kita bahwa orang tersebut tidak baik, demikian seterusnya sehingga tidak akan pernah menjadi baik. Lalu bagaimana solusinya? Dari uraian diatas, maka pertama yang harus kita lakukan adalah merubah labelnya atau merename nama yang sudah kita catatkan pada pikiran bawah sadar tadi, sehingga bila kita ketemu dengan orang tersebut, maka pikiran bawah sadar akan memberikan informasi yang berbeda atau informasi yang positif tentang orang tersebut, sehingga pikiran sadar kita dan seluruh organ kita akan bereaksi secara positif, menunjukan sikap positif, sikap bersahabat, dan secara perlahan akan merubah dia dari sikap kita yang terlihat padanya.

Demikian halnya dengan diri kita, ketika kita selalu mengatakan bahwa kita tidak bisa, tidak mampu,pikiran bawah sadar kita akan mencatat/memprogram/memberi label, maka ketika kita menginginkan sesuatu itu atau orang lain meminta kita melakukan sesuatu, program pikiran bawah sadar kita akan aktif dan menginformasikan kepada pikiran dan seluruh organ kita bahwa kita tidak mampu/tidak bisa dan seketika itu juga pikiran dan seluruh organ kita berhenti berusaha. So… Mulailah menggunakan kata-kata positif, buatlah/masukanlah program-program positif untuk diri dan kehidupan Anda, karena setiap orang memiliki potensi yang sama, setiap orang memiliki hak yang sama untuk sukses dan bahagia.

Semoga Bermanfaat……

Salam
Made Sumiarta
(Prema Ananda | AKMI Baturaja)
YM. : made_mg
Pin BB. : 2571CD16
mobile : 08156 80 3709
0819 3177 3299
0813 90 13 8484
Phone. : +62 274 558126
email. : made@akmi-baturaja.ac.Id
madeprema@gmail.com
madeprema@yahoo.co.id
http://www.premaananda.co.cc
http://www.prema-ananda.co.cc
http://www.akmi-baturaja.ac.id
http://www.ogan.co.cc
http://www.hipmikindo.co.cc
http://www.iksjogja.co.cc
facebook : http://www.facebook/made.sumiarta

Dari mana Perubahan dimulai

Mengulang cerita yang pernah saya posting, yang saya sudah lupa sumbernya, namun masih membekas dibenak saya (mungkin ada yang tahu sumber dan ceritanya lebih detail?) :

Dahulu ada seorang anak yang pada saat Dia kanak-kanak memiliki cita-cita ingin merubah Dunia. Seiring dg perjalanan waktu menginjak remaja apa yang di cita-citakannya belum mengarah kepada apa yang di cita-citakannya, maka dia menurunkan cita-citannya “nanti pada saat dewasa saya ingin merubah Negaraku”. Dan pada saat dewasa cita-cita ini pun belum menunjukan ke arah pencapaian, maka pada saat dewasa Ia merubah cita-citanya “nanti jika saya berumur 30 tahun saya ingin merubah daerahku”, menginjak usianya yang ke 30th cita-cita ini pun masih belum menunjukan tanda-tanda akan tercapai, maka untuk yang kesekian kalinya ia kembali merubah cita-citanya “kelak di usiaku yang ke 40th saya ingin merubah desaku”, dan seperti sebelumnya cita-cita inipun hanya tinggal cita-cita. Penyesuaian pun kembali dilakukan “kelak diusia ku yang ke 50th, aku akan merubah dusunku, cerita kegagalan inipun berulang, sehingga dengan pesimis ia kembali menyesuaikan cita-citanya “jika usiaku sampai 60th, aku akan merubah keluargaku” dan inipun belum dapat dicapainya, hingga pada suatu saat, sang malaikat menghampirinya, dan sembelum dia menghembuskan napasnya yang terakhir serta masih didampingi cita-citanya yang belum pernah diwujudkan, Dia berkata lirih “Jika aku masih diberi kesempatan untuk hidup, maka aku akan merubah diriku sendiri, namun malang perpanjangan waktu yang diajukan ditolak oleh sang malaikat maut.

Rekan-rekan yang berbahagia, bersyukur kita mengetahui bahwa perubahan besar pun harus dimulai dari diri sendiri. Merubah pola pikir, merubah pola berinteraksi, merubah pola belajar, merubah pola memahami, merubah pola dalam menyikapi sesuatu. Tentu cerita ini saya sampaikan kembali bukan didasari pemikiran bahwa rekan-rekan belum mengetahui prihal ini, namun sekedar merefresh apa yang telah kita ketahui bersama.

Sebagai team leader maupun team follower, bukanlah prihal menerima namun memberi, bukan sebanyak apa yang kita terima, tapi sebanyak apa yang kita berikan, bukan seberapa banyak kita dipahami, tapi seberapa banyak kita memahami. Tentunya penilaian ini ditujukan kepada diri kita masing-masing, karena jika penilaian ini kita tujukan untuk orang lain, maka yang terjadi adalah cerita terbalik yang berujung tidak baik seperti cerita diatas.

Pasang surut organisasi kerap kali terjadi karena berkembangnya ego pribadi, karena liarnya arogansi yang berpikir kita mampu mengembangkan lembaga ini sendiri, dengan kecerdasan kita sendiri, dengan nama besar kita sendiri, dengan pengalaman kita. Kita menganggap orang lain salah dimana mungkin saja karena kamus kita yang belum lengkap.

Ijinkan saya mengajak rekan-rekan semua untuk bersinergi, saling mengisi, saling membimbing. Memberikan delegasi bagi team yang telah mampu, membimbing dan mendampingi bagi team yang belum mampu pada bidang-bidang tertentu, bukan menyalahkan namun membenarkan, bukan memarahi namun memberitahu dan mengarahkan. Jika kita tidak bisa mengajak dengan cara kita, mari kita coba merubah pola pendekatan kita.

- Apa yang siap kita rubah demi mencapai tujuan kita?

- Apa yang siap kita berikan untuk mencapai tujuan kita?

- dari diri kita, Apa yang siap kita korbankan untuk meraih cita-cita kita?.

Sukses…. Sukses…. Sukses
Semoga keberlimpahan datang dari segala sumber
Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

SELAMAT PAGI ……..
Salam

Made Sumiarta

Berikan yang terbaik dapatkan yang terbaik

Rekan-rekan yang LUAR BIASA……

Apakah Anda sedang sibuk saat ini, pekerjaan menumpuk, banyak beban menghimpit, berkejar-kejaran dengan waktu dan target?, Ditengah kesibukan itu, bagaimana sikap kita sebaiknya? Mengeluh? Atau bersyukur?
Menurut saya bila kita menginginkan yang terbaik, maka kita seharusnya bersyukur…. Kenapa? Bersyukur karena kita diberi kesempatan untuk memiliki semua tools untuk menjadi lebih kuat, lebih trampil, lebih cekatan, lebih mahir mengelola waktu, sehingga otot-otot kita terlatih dengan semua beban tersebut, syaraf-syaraf otak kita selalu berkativitas sehingga memperkecil potensi stroke dan berbagai penyakit fisik dan psikilogis. Bersyukur karena kita berada pada lingkungan yang sangat dinamis, bersyukur karena kita diberi kesempatan lebih awal untuk mengetahui banyak hal dan menguasai banyak hal, mungkin saja diluaran sana dibutuhkan banyak uban dikepala, butuh berkorban rambut untuk sampai pada kesempatan yang kita miliki sekarang…… Rasakanlah betapa kita mesti bersyukur atas karunia besar ini.

Rekan-rekan yang pandai bersyukur…… Saya paling suka nonton film laga (jetli, jekichen, dan film-film laga cina lainnya), mungkin ada rekan-rekan yang memiliki selera yang sama. Biasanya diawal Aktor menjadi looser dengan berbagai penderitaan, penghinaan, cemoohan, dan setelah sang Aktor menemukan impiannya, menyatakan komitmennya, selanjutnya berlatih keras, hingga pada akhirnya jadi pemenang. Meskipun ini hanyalah sebuah sandiwara yang telah disusun sekenarionya oleh sang sutradara, namun telah banyak dibuktikan kebenaran oleh kebanyakan orang, perjuangan dan komitmen pada proses dan hasil akan menghasilkan buah yang manis, bahkan bukan sekedar buah namun include dengan pohon yang indah yang terus menghasilkan buah-buah yang manis sepanjang masa selagi kita mau memupuk dan merawatnya, Pohon ini adalah Jiwa dan raga kita, dengan cabang-cabang yang indah (cabang cinta kasih, cabang syukur, cabang kebahagiaan, cabang keberlimpahan), iklaskah kita menjadi pohon seperti ini?

Rekan-rekan yang telah dipenuhi aura kebahagiaan dan keberlimpahan ……….. Ijinkan saya bercerita prihal perjalanan hidup saya yang biasa-biasa saja bila dibandingkan rekan-rekan semua. Saya dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga petani yang sangat rendah hati disebuah pelosok desa dengan kehidupan yang seadanya layaknya seorang petani. Bangun pagi masak, sekolah berjarak 7km, datang sekolah pergi ngarit, ngurus ternah, menimba air, membersihkan halaman, dan masih segudang kegiatan fisik yang melelahkan, karena aktifitas itu berlulang dan berulang selama kurang lebih 10th, hingga timbul hayalan-hayalan yang semakin kuat hingga menjadi impian yang sangat jelas dalam pandangan dan pikiran saya, impian punya istri cantik, punya rumah sendiri, punya penghasilan diatas rata-rata, punya mobil, menyekolahkan adik-adik, dan sejuta impian lainnya, walaupun saya bukanlah pribadi yang cerdas namun tetap saya beranikan diri untuk mempertahankan impin-impian itu, dan saya semakin mantap ketika saya temukan kata-kata bijak yang pas untuk kondisi saya “Keuletan dapat mengalahkan kecerdasan” hal ini yang saya rasakan menuntun langkah-langkah saya, bertemu seorang sahabat pembelajar, ke Jogja bersama dan mulai merajut impian bersama. Tahun 1997 satu demi satu impian itu terwujud, menjadi pengusaha loundry, Pengusaha rental, bimbingan jarak jauh, jual-beli komputer yang berkembang pesat dengan cabang-cabangnya, punya motor sendiri, punya penghasilan yang cukup, punya istri cantik, bisa menyekolahkan adik-adik, bisa membantu keuangan orang tua, punya mobil, punya rumah, bisa berkumpul dan bersahabat dengan orang-orang sukses. Tentu cerita terakhir terlihat sebagai cerita yang indah dan manis, yang sebenarnya dalam perjalanannya ada bumbu-bumbu duka, kerja keras, pengorbanan, mungkin juga air mata doa. Bersyukur pada usia yang terhitung muda saya mengenal hukum sebab akibat, yang membuat saya mampu bertahan ditengah terpaan badai kehidupan yang terkadang dapat meluluhlantakan apapun, badai persahabatan, badai dunia bisnis, badai rumah tangga. Dengan sikap berani mengambil semua itu sebagai tanggungjawab kita, maka yakinlah semuanya akan berbuah manis pada waktunya, berani mengakui sebuah kesalahan sebagai kesalahan kita, maka kitalah yang akan memetik keindahaan hasilnya. Jangan pernah mengambil hak orang lain walaupun kita mampu, dan berikan hak orang lain meskipun mereka tidak meminta.

Sahabat Pembelajar…… Ketika kita ikut memikirkan apa yang kita dapat dari apa yang kita lakukan, maka kehidupan ini mulai tampak rumit, ruwet dan sepertinya tidak bersahabat. Menurut saya lakukan saja apa yang menjadi kewajiban kita, lakukan saja apa yang seharusnya bisa kita lakukan dengan segenap potensi yang kita miliki tanpa pamrih dan keluhan, maka yakinlah Tuhan yang maha bijaksana akan memberikan apa yang menjadi bagian kita beserta bunga-bunganya, beserta bonus-bonusnya dengan sangat sempurna.
Saya mohon ijin untuk kembali bercerita perjalanan hidup saya atas prinsif-prinsif yang saya anut…. Pada tahun 2004 bisnis yang saya bangun bersama sahabat terbaik saya harus menjalani perawatan di ICU, ini adalah kali pertamanya bisnis kami mengalami guncangan yang maha dasyat sehingga terpaksa dilakukan operasi amputasi, dengan kesepakatan yang manis, pada beberapa bidang bisnis kami, kami sepakat untuk berteduh pada payung yang berbeda, saya berteduh pada payung yang lebih kecil meskipun berada pada cuaca yang sama. Tingginya gunungan hutang yang harus saya ratakan membuat tantangan yang besar pada prinsif-prinsif yang saya anut, bersyukur saya berhasil tampil sebagai pemenang, saya gunakan seluruh pusaka yang saya miliki termasuk mengiklaskan Rumah yang menjadi tempat berteduh bagi saya, istri dan anak-anak. Dengan himpitan beban yang demikian besar kami tetap mampu mempertahankan prinsif-prinsif kami, semenjak kami berhasil melewati masa kritis itu, kami merasa buah-buah keberuntungan itu selalu tersedia untuk kami sekeluarga. percaya bahwa ada rejeki yang dititipkan Tuhan pada kita untuk orang lain, maka berikan hak mereka, jangan pernah bersikap takabur atau sombong bahwa apa yang kita dapatkan karena keberuntungan kita, karena kerja keras kita saja, sehingga menampik peran dan buah baik orang lain. Mungkin saja bibit orang lain yang dititipkan Tuhan pada lahan kita, karena orang lain tersebut belum memiliki lahan dan sekarang berbuah, sebagai pemilik lahan tentu kita berhak atas share hasilnya, namun tentunya tidak seluruhnya. Dengan pola pikir ini, maka kami merasa mendapat prioritas untuk diselamatkan lebih cepat, meskipun saat ini belum sehebat rekan-rekan semua, Rumah kami telah dikembalikanNYA, mobil kami telah diganti, dan rumahtangga kami dilengkapi dengan bunga-bunga keindahan yang menebarkan aroma wangi (setidaknya ini menurut kami), saat kami berniat menyumbang pembangunan tempat ibadah dengan segera kami diberikan tambahan sebuah sepeda motor gratis melalui undian cabutan atas pembelian mobil, ketika kami memikirkan agar karyawan kami mendapat penghasilan yang diatas rata-rata, maka segera kami diberikan profit diatas target ditengah pasar yang sedang lesu. Pertanyaannya sekarang apakah kita memiliki jiwa keberlimpahan terlebih dahulu baru akan mendapatkan keberlimpahaan? Atau kita mendapatkan keberlimpahan terlebih dahulu baru kita akan memiliki jiwa keberlimpahaan? Saya tentu tidak berhak memaksakan salah satunya untuk Anda, Pilihan terbaik ada ditangan Anda…….

Salam Jiwa Keberlimpahan
Made Sumiarta
http://premaananda.co.cc

Melatih kekuatan Memilih

Melatih Kekuatan Memilih

“Trouble is a friend.” – LenkaSahabat, setiap kita saat ini adalah hasil dari keputusan dan tindakan kita di masa lalu. Tindakan dan keputusan kita bertahun yang lalu, punya peran membentuk diri kita saat ini. Keputusan dan tindakan kita kemarin, telah menjadikan kita sebagaimana kita yang hari ini.Maka sahabat, setiap keputusan dan tindakan kita hari ini, akan menentukan bagaimana kita di masa depan. Jika kita menginginkan kebaikan terjadi pada diri kita di hari esok, maka segala keputusan dan tindakan kita hari ini, juga harus menjadi keputusan dan tindakan yang baik-baik.Keputusan dan tindakan yang baik, adalah keputusan dan tindakan yang sangat jelas memberi sinyal tentang arah di dalam rute yang benar menuju kepada kebaikan kita di masa depan.Keputusan dan tindakan yang baik adalah bukan yang berbelok arah, dan bukan pula yang berbalik arah dari rute itu.Kita sering sekali merasakan kesulitan untuk meyakini tingkat kebaikan yang tepat terkait dengan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan.”Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?”"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?”Perasaan seperti itu bisa berakibat buruk pada kestabilan diri dan menciptakan keraguan serta kegamangan. Akibatnya, perjalanan kita menuju kepada kebaikan akan kita rasakan sebagai langkah-langkah yang terseok dan rapuh. Diri, pikiran, dan perasaan kita juga akan menjadi lebih rapuh, menjadi lebih rentan di hadapan badai kehidupan.Itu sebabnya sahabat, kita memerlukan keyakinan yang lebih kuat di dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Hanya dengan ini, maka mata dan hati kita juga hanya akan tertuju ke depan. Dan tentunya, keadaan ini akan membuat kita bisa memudahkan jalan menuju kepada kebaikan yang kita cita-citakan.Keyakinan, sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit kita capai tingkatan idealnya. Ini ada benarnya, sebab keyakinan adalah tiang penyangga yang kekuatannya tidak datang begitu saja. Kekuatan keyakinan, adalah kekuatan yang harus kita bangun setiap saat, setiap hari.”Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?”"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?”adalah”Apakah saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?”"Apakah saya yakin tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?”Dan sungguh sahabat, Tuhan begitu menyayangi kita dengan menganugerahkan sebuah kemampuan yang memang sesuai dengan kesanggupan setiap manusia. Dengan kemampuan itu, setiap kita telah diciptakan untuk mampu membangun keyakinan. Kemampuan itu, adalah kemampuan untuk MEMILIH.HAL TERPENTING DI BALIK SETIAP KEPUTUSAN DAN TINDAKANHal terpenting di balik setiap keputusan dan tindakan, adalah PILIHAN. Dengan kata lain, setiap keputusan dan tindakan adalah identik dengan PILIHAN. Dan kita sama mengetahui, bahwa setiap penyimpangan, kemunduran, atau terhentinya perjalanan menuju kepada kebaikan, hanya disebabkan oleh kegagalan dalam mengambil keputusan dan dalam melakukan tindakan. Maka sesungguhnya, kegagalan itu adalah kegagalan di dalam menetapkan PILIHAN.Dengan kata lain sahabat, berhasil atau tidaknya kita mencapai tujuan dan cita-cita kebaikan, adalah ditentukan oleh besarnya kekuatan dari PILIHAN yang kita tetapkan.PILIHAN itu sendiri adalah fenomena obyektif yang dihamparkan di hadapan kita setiap saat, setiap waktu. Dengan obyektifitasnya itu, maka PILIHAN adalah sesuatu yang netral dan apa adanya. Dalam pada itu, segala pilihan kebaikan yang kita tetapkan sebagai tujuan di dalam kehidupan, adalah sesuatu yang amatsubyektif sifatnya, di mana untuk menuju kepada kebaikan ada begitu banyak pintu-pintu kebaikan. Apa yang perlu kita tempuh dengan demikian, adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai kekuatan di dalam MEMILIH.BERDIRI ATAU JATUH DI HADAPAN PILIHANSetiap kali kita dihadapkan pada PILIHAN, maka pada ketika itu SESUNGGUHNYALAH fungsi kemanusiaan kita sedang berada di titik PUNCAKNYA. Ketika kita berada di tengah masalah, kita berada di tengah hutan rimba PILIHAN. Segala hal yang berkecamuk di dalam pikiran dan perasaan kita, adalah hamburan-hamburan PILIHAN. Ketika itulah, kekuatan kita di dalam menetapkan PILIHAN menjadi sangat berperan.Pada ketika itu, inilah yang berlangsung dan terjadi pada diri kita sebagai normalnya manusia:1. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PERASAAN di titik puncak.2. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PIKIRAN di titik puncak.Hanya PERASAAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang impulsif, kompulsif, atau obsesif, yang akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang kurang menggunakan AKAL SEHAT.Hanya PIKIRAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang rigid alias kaku dan berdarah dingin, yang juga akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang juga terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru juga mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang KURANG BERPERASAAN.Lebih dari itu sahabat, hanya PERASAAN dan PIKIRAN yang mendominasi JIWA lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJERUMUS ke dalam pilihan yang buruk, yang jauh dari kebaikan, yang dipastikan akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena KEGAGALAN KEMANUSIAAN yang meng-gagal-total- kan kebaikan. Kita akan menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN.Dari itu sahabat yang baik, apa yang perlu kita lakukan adalah terus belajar di dalam kebaikan, dengan terus berlatih guna menguatkan KEKUATAN MEMILIH, agar perasaan dan pikiran tetap menjadi “alat” kita dan tidak sebaliknya malah “memperalat” kita yang sebenarnya sedang menuju kepada cita-cita kebaikan.MELATIH KEKUATAN MEMILIHDemi ekologisnya PILIHAN keputusan dan tindakan kita saat ini, dan demi ekologisnya semua itu dengan masa depan, maka kita perlu berhati-hati menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan. Agar kita sebagai manusia yang baik-baik, tidak TERJATUH atau TERJERUMUS dan kemudian terlepas dari kebaikan kemanusiaan.Sahabat, “ekologis” itu mudahnya adalah, “tetap melekat pada kebaikan dan terus membawa kebaikan, kapanpun dan dimanapun.”Mari kita sama-sama belajar dan berlatih.Sahabat, perhatikanlah daftar berikut ini dan jika perlu tambahkanlah sendiri daftar ini sesuai dengan kondisi dan keadaan sahabat, apapun kondisi dari PERASAAN dan PIKIRAN sahabat saat ini.01. TAQWA versus FUJUR02. BENAR versus SALAH03. PAHALA versus DOSA04. BERMORAL versus AMORAL05. BAIK versus BURUK06. PINTAR versus BODOH07. SMART versus STUPID08. CANTIK versus TIDAK CANTIK (bukan tentang fisik)09. COOL versus NOT COOL10. KEREN ABIEZ versus NORAK ABIS11. GUE BANGET versus BUKAN GUE BANGET (di dalam kebaikan)12. AMAN versus TIDAK AMAN (bagi kebaikan)13. MEMULUSKAN versus MENGHAMBAT (proses menuju kebaikan)14. NYAMAN versus TIDAK NYAMAN (untuk kebaikan diri sendiri)15. BERANI (karena benar) versus TAKUT (karena salah)16. HIDUP versus MATI17. BERSYUKUR versus TIDAK BERSYUKUR18. SABAR versus AMARAH19. ENAK versus MEMUAKKAN20. BIJAK versus TIDAK BIJAK21. CINTA versus BENCI22. ADIL versus DZALIM23. KAYA versus MISKIN (bicara akibat)24. KEBAHAGIAAN versus PENDERITAAN (bicara akibat)25. KETERATURAN versus KEKACAUAN26. MENANG versus KALAH27. SELESAI versus TAMBAH RUNYAM28. Dan seterusnya.Sahabat bisa menambahkan pasangan-pasangan kontras sebanyak yang sahabat mau, sesuai yang bisa sahabat PIKIRKAN dan RASAKAN saat ini. Semakin sahabat menambahkannya, semakin banyak pintu-pintu kebaikan yang berpotensi sahabat masuki.Sahabat, apa yang kita lakukan setiap saat adalah memberi MAKNA, sebab kehidupan adalah tentang MAKNA. Dan kita, baru saja memberi MAKNA bagi berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan yang dihadapkan kepada kita setiap saat dan setiap hari.MAKNA-MAKNA itu, akan kita jadikan LABEL alias penanda bagi berbagai kemungkinan sebagai calon PILIHAN. LABEL-LABEL itu, adalah PINTU-PINTU menuju kepada kebaikan.Pasangan LABEL itu secara sengaja dan khusus saling kita hadapkan sebagai dua kutub yang bertentangan. Di dalam teknik persuasi, upaya ini disebut dengan “the power of contrast”.Ingatlah sahabat, bahwa ketika kita me-LABEL-kan sebuah makna, maka LABEL itu melekat pada berbagai kemungkinan dan BUKAN pada DIRI KITA. LABEL-LABEL itu mewakili karakteristik, sifat, dan potensi dari berbagai PILIHAN kita nantinya.Ketika kita berhadapan dengan berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan kehidupan, tahan dirilah sejenak untuk tidak langsung menetapkan PILIHAN KEPUTUSAN atau bahkan langsung melakukan apa yang menjadi PILIHAN TINDAKAN. Tuailah manfaat terbesar dari kesabaran, yaitu KEKUATAN UNTUK MEMILIH. Dan inilah yang perlu sahabat lakukan di saat JEDA itu.Pertama, urutkanlah ulang semua koleksi LABEL di atas.Ketika sahabat melakukannya, jangan lupa untuk MENGAMBIL angka nol (0) yang berada di depan semua angka di atas. Angka nol itu tidak kita buang, melainkan kita tanamkan kepada diri kita, bahwa itu adalah sebuah SIMBOL bagi jiwa kita yang baik, bahwa kita sedang dengan sengaja berdiri di titik nol, alias di titikNETRAL. Dengan tidak lagi mengandung angka “nol” di depannya, hasil pengurutan ulang yang sahabat lakukan, akan sangat mencerminkan tingkat kepentingannya bagi sahabat sendiri.Mengurutkan ulang ini bisa kita lakukan dengan merasakan pengaruh terbesar dari pasangan LABEL terhadap perasaan dan pikiran kita. Misalnya saja, kita sangat benci disebut “BODOH” maka tentunya kita akan sangat senang disebut “PINTAR”. Pada hari-hari yang lain, kita mungkin lebih senang disebut “ADIL” dan sangat tidak senang disebut “DZALIM”. Ini sangat tergantung pada mood, atau kondisi perasaan dan pikiran kita pada suatu saat.Apa yang biasanya terjadi, adalah otomatisnya kita melekatkan berbagai LABEL itu ke diri kita sendiri.Jika orang lain yang melakukannya, maka kita cenderung meng-ya-kannya. Maka kita bisa memaklumi, bahwa akibatnyapun akan sangat mungkin menjadi keputusan dan tindakan yang juga otomatis, yang justru menjatuhkan atau menjerumuskan.Itulah keadaan di mana kita sedang “diperalat” oleh pikiran dan perasaan kita sendiri. Salah satu ciri dari kondisi “diperalat”, adalah ketika kita berada dalam situasi “miskin pilihan pasangan LABEL”. Misalnya, ketika kita melihat suatu persoalan hanya sebagai “MENANG versus KALAH”. Padahal, belum tentu bahwa “MENANG versus KALAH” adalah di puncak peringkat.Menjalani proses jeda dan mengurutkan ulang ini, adalah upaya awal bagi kita untuk menggeser semua LABEL agar tidak lagi “memperalat” melainkan menjadi “alat” yang bisa kita gunakan untuk mengelola PILIHAN-PILIHAN.Mengurutkan ulang ini, juga bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan, “Apa yang paling penting buat saya saat ini?” – Apapun jawaban yang sahabat dapatkan, selalulah menjadikannya sebagai pasangan LABEL yang saling bertentangan. Misalnya, jika yang paling penting bagi sahabat pada suatu saat adalah “SELESAINYA MASALAH”, maka pasangan kontrasnya adalah “MASALAH TAMBAH RUNYAM”.Sahabat, apapun hasil dari mengurutkan ulang di atas, adalah cerminan dari kondisi dan situasi diri sahabat pada saat itu. Dan manapun pasangan LABEL yang berada di puncak peringkat, hanya berarti satu, yaitu bahwa sahabat sedang berada di puncak performa sebagai pribadi yang sesungguhnya baik. Maka sahabat, mengurutkan ulang semua pasangan LABEL sebagaimana di atas, adalah upaya mengakomodasi perasaan dan sekaligus pikiran dengan tetap berada di dalam kerangka kebaikan.Kedua, ambillah satu pasangan LABEL yang sedang berada di puncak peringkat. Misalnya “BAIK versus BURUK”. Mulai dari sini, konsistenlah HANYA dengan pasangan LABEL ini saja (lihat note di bagian bawah ini).Ketiga, bersiaplah untuk melekatkan pasangan LABEL itu kepada kemungkinan- kemungkinan keputusan dan tindakan yang sedang sahabat hadapi. Tapi, tunda dulu proses ini.Keempat, PILIHLAH SATU LABEL untuk MEMAKNAI setiap kemungkinan keputusan dan tindakan yang kita hadapi.Kemudian, mulailah sahabat melakukan LABELLING. Misalnya, “kemungkinan A” berlabel “BAIK”, “kemungkinan B” berlabel “BAIK”, “kemungkinan C” berlabel “BURUK” dan seterusnya.Di awal proses, kemungkinan keputusan dan tindakan itu mungkin saja lebih dari dua, atau bahkan banyak. Akan tetapi, lekatilah dengan HANYA salah satu dari dua PILIHAN LABEL MAKNA di puncak peringkat. Jangan gunakan LABEL dari pasangan LABEL di peringkat yang lain, sebab itu akan memicu “konflik internal” di dalam perasaan dan pikiran sahabat.Sejalan dengan waktu, sahabat akan menemukan bahwa setiap masalah sebenarnya hanya akan bermuara pada dua ujung yang sifat, karakter, dan potensinya bertolak belakang.Kelima, simpulkan.Kini sahabat memiliki cara yang lebih mudah dan lebih bijak untuk menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan, sehingga Insya Allah keputusan dan tindakan sahabat memang bisa sahabat yakini mengarah kepada tujuan kebaikan.Note: Dalam hal terjadi keseimbangan hasil di antara dua LABEL kontras, barulah sahabat bisa bergeser ke pasangan LABEL di peringkat berikutnya. “Tata tertib” ini memang diperlukan agar tidak memicu “konflik internal” sebagaimana diungkapkan di atas.Peringkat dari pasangan-pasangan LABEL itu juga akan berubah-ubah urutannya, tergantung pada situasi dan keadaan pikiran dan perasaan sahabat di setiap saat. Peringkat hari ini mungkin akan berbeda dengan peringkat besok. Apa yang penting, adalah sahabat selalu mempunyai pasangan kontras, di mana yang satu menuju kepada cita-cita kebaikan dan satu lagi sebaliknya.Semoga, kita semua bisa lebih banyak berlatih dan belajar setiap hari, ketika kita dihadapkan pada berbagai PILIHAN kemungkinan dari keputusan dan tindakan di dalam hidup yang menuju kepada kebaikan. Sehingga, apapun LABEL yang sedang kita lekatkan kepada berbagai kemungkinan itu secara obyektif, sahabat tetap berdiri sebagai pribadi yang secara subyektif baik.Semoga sahabat semua menjadi lebih mudah menemukan cara yang memuluskan jalan menuju kepada cita-cita kebaikan. Aamiin. Aamiin.O ya sahabat, bukankah semua pelajaran di atas sesungguhnya adalah tentang MELATIH HATI NURANI?

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://www.motivasi -komunikasi- leadership. co.cc
http://www.facebook .com/pages/ Motivasi- Komunikasi- Leadership/ 196571006305__

Sambil Ngelamun

Selalu ada Hikmah dari sebuah kejadian, perpindahan susah dan senang dari satu tempat ke tempat lain. Naiknya market Notebook meningkatkankan penjualan pemain notebook, dan sedikit mengurangi pasar PC. Dulu ketika dollar 2.800 naik jadi 12.000, mendadak teman saya yang gak punya mobil bisa beli mobil karena Dia punya tabungan Dollar dan dia adalah salah satu orang yang mendapat keuntungan dari naiknya kurs dollar, sementara itu disisi lain puluhan pengusaha terkapar. Teman reseller saya mengatakan, dengan naiknya kurs dollar yang mengakibatkan naiknya harga barang dalam bentuk rupiah menjadi berkah baginya karena waktu kurs dollar setabil dia kalah bersaing dengan toko-toko besar yang pasang harga gila-gilaan, menjual harga yang sama kepada User dan Dealer, karena dollar naik, maka harga-harga menjadi tidak stabil dan karena harga yang tidak stabil, maka user menjadi sulit memperbandingkan harga hari ini dan besok, maka teman saya itu akhirnya bisa jualan dengan keuntungan yang lumayan. Banyak orang takut dengan gelombang, tapi tidak halnya dengan peselancar yang justru menunggu gelombang besar.

Sebuah kejadian akan selalu melahirkan pahlawan sekaligus pecundang, selama kita bisa bersahabat dengan lingkungan menjadikan kompetitor sebagai partner, mengurangi arogansi karena berbadan besar, mau sedikit menilik keluar melihat akibat dari kebijakan-kebijakan yang kita buat ternyata banyak makan korban, mau mengurangi umpatan, makian orang lain karena terganggu dengan strategi yang kita terapkan, maka yakinlah, layaknya orang tua bertangung jawab atas masa depan anaknya, maka demikian halnya TUHAN akan bertangung jawab atas Nasib kita, tinggal kita mau terima gak bentuk tanggung jawab Tuhan yang mungkin dalam bentuk lain.

Setiap kejadian akan mendewasakan kita dan membuat kita lebih bijaksana, orang yang pernah jatuh akan lebih bijaksana memandang kehidupan ini. Tidak sombong pada saat berjaya, tidak kejam saat berkuasa, tidak menjadi pelupa pada orang lain saat terkenal, dan tidak memberi vonis abadi, bahwa setiap orang berhak untuk berubah.

(dibaca saat melamun gak ada kerjaan, ketimbang ngelonjor “Ngelamun Jorok”)

Salam,

Made Sumiarta

http://prema-ananda.co.cc

Lakukan yang terbaik untuk hidupmu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri
*************
Rekan-rekan sekalian, dalam kehidupan nyata banyak kita temukan hal senada, misalnya didunia dagang, ada yang menjual daging ayam mati, kenapa mereka menjualnya, karena toh yang makan bukan dia, Bakso yang dicampur daging tikus, hiii…. dengarnya aja sudah bikin mual, lalu kenapa orang tega menjualnya, mungkin jawabanya ya sama… karena toh yang makan bukan mereka, coba tanyakan kepada mereka yang menjual bakso yang dicampur daging tikus apakah mereka juga makan bakso itu? saya rasa jawabanya sudah pasti tidak.
Hal ini mungkin bisa menjadi satu bukti, bahwa tidak ada yang lebih peduli akan kehidupan/masa depan kita selain kita sendiri, atau sebaliknya “kita hanya tertarik pada diri kita sendiri, kita tertarik kalau berbicara prestasi kita, kehebatan kita, masa depan kita, bahkan pendapat kita sangat dipengaruhi oleh kepentingan kita, pengetahuan kita, dan hal-hal lain yang terkait dengan diri kita.
************
Karyawan menginginkan hasil yang terbaik dengan usaha yang minim, demikian juga bos. sehingga muncullah konflik yang pada akhirnya menurunkan kinerja personal maupun lembaga.lalu mata rantai itu berputar terbalik, lembaga tidak untung, sehingga tidak mampu memberikan yang terbaik untuk karyawan terlebih pada pemilik, lalu siapa yang paling dirugikan dalam hal ini? kalau kita tanya ke masing-masing pihak pastilah mereka yang mengaku paling dirugikan, itu artinya semua pihak akan dirugikan, apa penyebab hal ini, jawaban yang pasti adalah karena salah memberi beban nilai pada hak dan kewajiban
************
Apa kewajiban dan hak Karyawan? apa kewajiban dan hak lambaga (Bos)? hal ini tentunya sudah dibicarakan sebelum terjadinya ikatan kontrak kerja, namun secara umum kewajiban karyawan adalah memberikan kinerja yang terbaik, hak karyawan adalah menerima yang terbaik sesuai dengan kapasitasnya. lalu kewajiban lembaga adalah memberikan konpensasi yang terbaik, dan haknya adalah menerima yang terbaik dari karyawan sesuai dengan kapasitas yang diberikan.
Jika sekarang kedua belah pihak melupakan haknya dan sama-sama mengedepankan kewajibannya bukankah semua pihak  akan menerima hak secara otomatis.
************
Pada Prakteknya banyak pihak saling menunggu untuk memberikan yang terbaik, lembaga menunggu kinerja terbaik karyawan dan karyawan menunggu konpensasi terbaik dari lembaganya. namun secara statistik kita semua harus sadari, bahwa jumlah lembaga yang tersedia dimuka bumi ini dengan jumlah pencari kerja (karyawan) yang ada, jumlahnya sangat jauh berbeda, jumlah pencari kerja jumlahnya ribuan kali lipat dibanding jumlah lembaga/perusahaan yang ada, dengan demikian tentunya perusahaan/lembaga lebih punya banyak pilihan untuk memilih karyawan yang terbaik.
************
Terlepas dari semua hal diatas, pada hakekatnya kita terlahir ke dunia ini untuk berbuat/ karma, sehingga kita mendapatkan hasil atas perbuatan kita atau atas apa yang kita perbuat (Pala). apapun yang kita lakukan pada dasarnya untuk kita sendiri, untuk kehidupan kita, untuk amalan kita, walaupun sepertinya kita melakukannya untuk orang lain, tapi sebenarnya akan kembali berpulang pada kita. misalnya kita memberi makan seorang anak gelandangan, sepertinya apa yang kita lakukan tadi untuk orang lain, tapi pada dasarnya kita berbuat itu semua untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra tentang siapa kita (kita orang baik), kita orang yang pengasih, untuk mendengar ucapan terimakasih yang tulus yang membahagiakan hati kita. dan jika kita percaya pada keberuntungan, keberkatan, kebahagiaan dunia akhirat, surga, maka untuk itulah kita melakukannya.
Demikian halnya dalam dunia kerja, kita melakukan pekerjaan dengan baik, jujur dan berprestasi, kita berpikir kita melakukannya semata-mata hanya untuk menguntungkan perusahaan, sehingga kita <span style=”font-weight:bold;”>MINTA</span> untuk dihargai. Padahal apa yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra kita dimata lembaga, masyarakat terlebih di mata TUHAN. Perkataan kita, sikap, perbuatan, pola pikir kita akan mencitrakan tentang siapa kita, kita ingin dikenal dengan citra seperti apa. apakah kita ingin dikenal sebagai orang yang menyenangkan, orang yang tulus (tidak itungan), orang yang cerdas, orang yang bisa dipercaya, orang yang bisa diberi tanggungjawab, atau kita ingin dikenal sebagai orang yang tidak performance, sulit diajak kerja sama, keras kepala, berbahaya. semua itu sangat bergantung bagaimana kita mencitrakan diri kita. Hanya orang yang peduli pada nasibnyalah yang akan peduli pada orang lain dan lingkungannya.
*************
Kita semua tentunya pernah menjadi orang yang ikut menentukan apakah seseorang layak menjadi rekan kerja kita, menjadi pemimpin kita, dsb. misalnya kita mungkin pernah ikut dalam pemilihan kepala desa, tentunya kita punya kreteria sebelum menentukan pilihan. ternyata demikian halnya didalam sebuah lembaga, untuk penentuan kenaikan Gaji, kenaikan Jabatan, pemberian penghargaan, lembaga akan menilai dari berbagai aspek, baik aspek pribadi maupun aspek profesional. apapun yang kita lakukan akan akan menjadi buah untuk diri kita. semua yang ada diluar diri kita adalah cermin untuk kita, ia memantulkan bahkan gerakan sekecil apapun yang kita lakukan, jika kita menjulurkan lidah kita, maka itu yang akan kita lihat dihadapan kita, jika kita mencaci, maka itu yang akan kita dengar, jika kita memuji maka pujianlah yang kita dengar, jika kita menghargai, maka penghargaanlah yang akan kita terima.
**************
Jika kita mengharapkan yang terbaik, maka lakukan hal-hal yang terbaik pula.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.