Malam Kesadaran, bukan Penebusan Dosa
Oleh I Gusti Ketut Widana

Kisah Lubdhaka seorang pemburu yang kemudian berhasil masuk surga rupanya telah mengobsesi sebagian kalangan umat untuk bergiat mengikuti acara malam Siwaratri dengan harapan bisa mengikuti jejak Lubdhaka. Lubdhaka yang meskipun banyak melakukan perbuatan dosa, lantaran ia adalah seorang pembunuh (binatang), namun akhirnya berhasil mencapai surga, sebuah tempat yang selalu menjadi impian umat untuk dicapai setelah kematian menjemput.

Pemahaman yang demikian dangkal inilah yang tampaknya membuat kesalahkaprahan terhadap arti dan makna hari suci Siwaratri yang tahun ini akan dilaksanakan 22 Januari mendatang. Kebanyakan umat Hindu (awam), akhirnya berkembang menjadi pendapat umum, bahwa Siwaratri dianggap sebagai malam penebusan dosa. Padahal secara harfiah, arti kata Siwaratri, lengkapnya Siwaratri Kalpa adalah sebagai malam penghormatan Siwa yang sepatutnya dimaknai sebagai malam kesadaran (tan mrema, tan aturu) bukan sekadar begadang semalam suntuk lalu berharap segala dosa ditebus, kemudian setelah ajal menjemput surga menyambut.

Alur cerita Siwaratri yang menampilkan gambaran hidup Lubdaka yang adalah seorang pemburu lalu masuk surga, mengesankan betapa dosa itu bisa dengan mudah ditebus oleh seseorang yang keseharian hidupnya terbiasa merlakukan Himsa Karma, membunuh binatang yang hakikatnya makhluk hidup juga. Jika disimak lebih dalam makna satwa (kebenaran) dibalik satua (penceritaan) Siwaratri, didapat pemahaman, sesungguhnya semua kisah lengkap tentang perjalanan hidup Lubdaka, adalah gambaran tentang kehidupan kita, yang diingatkan untuk selalu berikhtiar mencari dan akhirnya menemukan Sang Jati Diri (atutur ikang atma ri jatinya) sebagai jalan mencapai Sang Mulajadi, Tuhan itu sendiri.

Jati diri sebagai homo religious yang senantiasa dituntun sekaligus dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas diri, lahir bathin : material spiritual. Karena itu kisah perjalanan Lubdaka sebenarnya merupakan episode kehidupan manusia yang pada akhirnya harus kembali kepada-Nya dengan cara pelan tapi pasti agar meninggalkan kehidupan duniawi yang diikat raga (indria) dan selalu berbuah papa (hina, sengsara). Itulah sebabnya Lubdaka digambarkan pergi meninggalkan rumah, anak dan istri menuju ke hutan jauh dari keramaian dunia yang akrab dengan keinginan duniawi. Harapannya agar ia menemukan marga satwa (jalan kebenaran) dalam usahanya membunuh (sifat-sifat) kehewaniannya.

Oleh karena kapetengan (kemalaman), sebagai gambaran bahwa ia masih diliputi kegelapan (kebodohan/ketidaksadaran), maka Lubdaka menaiki sebuah pohon Bilwa (Bila), sebagai pertanda bahwa ia hendak meningkatkan kualitas dirinya, terutama rohani/spiritualnya. Agar tetap dalam keadaan terjaga (jagra), ia memetik-metik daun Bilwa, sebagai isyarat ia dengan tekun dan disiplin serta penuh konsentrasi mencurahkan rasa bhaktinya agar tetap dalam keadaan eling ring raga (berkesadaran).

Setiap bagian perbuatan Lubdhaka itu sebenarnya merupakan fragmentasi betapa pentingnya ”pengisian diri” dengan berbagai jnana (pengetahuan/widya) agar menjadi wijnana (bijaksana) yang disimbolisasikan dengan memetik daun (lambang media aksara/ilmu). Selanjutnya menjadi bekal moral meningkatkan kesadaran spiritual, sehingga memudahkan pencapaian obsesi ”persatuan” dengan Siwa, sebagaimana dilukiskan Lubdhaka bersamaan/bersatu dalam Yoganya Siwa yang membuatnya patut mendapat anugerah Siwaloka (surga).

Surga yang akhirnya berhasil dicapai Lubdaka sejatinya pembuktian bahwa siapapun umat manusia meski dalam keseharian hidupnya penuh dengan gelimangan dosa. Jika timbul kesadaran untuk merubah dan kemudian memperbaiki diri agar menjadi lebih berkualitas, jasmani-rohani atau material-spiritual, maka pahala surga siap menanti untuk dinikmati. Namun patut disadari, persoalan pencapaian obsesi surga tidaklah semudah sebagaimana digambarkan lewat ”kisah satu malam” Lubdhaka yang kemudian mengantarkannya meraih tiket surga. Bagaimanapun juga, semua bentuk pencapaian, pasti dibarengi dengan perjuangan sekaligus pembelajaran, syukur-syukur mendapat pencerahan guna mencapai kesadaran sampai akhirnya mencapai titik puncak kebahagiaan atau keabadian di alam-Nya.

Dalam konteks apa yang dilakukan atau ditiru oleh umat Hindu kebanyakan, lebih-lebih dari kalangan kawula mudanya dengan menafsirkan malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa, sesungguhnya merupakan sebuah kesalahkaprahan sekaligus bentuk penyimpangan terhadap arti dan makna hari suci Siwaratri. Apalagi kemudian dengan alasan majagra begadang semalam suntuk membuat kegiatan/acara yang keluar dari konteks ritual Siwaratri itu. Misalnya bepergian, terkadang berpasang-pasangan ke tempat-tempat sepi di malam hari seperti ke pantai atau lokasi lain yang dipandang aman dari pengawasan. Entah apa yang kemudian dilakukan anak-anak generasi muda Hindu tersebut, yang pasti maksud hati hendak bermalam Siwaratri dengan harapan menebus dosa kenyataannya malah semakin menambah dosa.

Tujuan utama Siwaratri untuk melebur atau melenyapkan (mapralina) kegelapan hati agar mencapai pencerahan dan kesadaran akhirnya berujung pada semakin jatuhnya kualitas diri manusia dari berstatus Manawa (manusia) yang seharurnya meningkat ke level Madawa (Dewa) justru menjelmakan karakter Danawa (raksasa), yang tentu saja semakin menjerumuskan manusia ke lembah dosa sekaligus menjauh dari surga.

Penulis, dosen Unhi Denpasar
Sumber : http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=61327

– Posted using BlogPress from my iPad

Advertisements

About Made Sumiarta
Ikatan Keluarga Sunggingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: